Sin-sEy.blogspot.com

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya

Rabu, 28 April 2010

bekal keyakinan muslim

Agama dan Ajaran Tauhid didalamnya
Agama adalah realitas yang selalu melingkupi manusia. Ia senantiasa muncul dalam berbagai dimensi sejarah kehidupannya. Karena itu tidak mudah memberi definisi agama, apalagi yang dapat membuat definisi yang menampung semua esensial yang terkandung di dalamnya. Dapat dipastikan bahwa pendekatan apapun yang dilakukan oleh para ahli akan selalu diwarnai dengan latar belakang pemikiran yang digelutinya, termasuk para ahli yang mengkhususkan kajiannya pada agama tertentu. Kata agama, secara etimologis, berasal dari bahasa sansekerta yang tersusun dari kata “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti pergi. Dalam bentuk harfiah yang terpadu kata agama berarti tidak pergi, tetap ditempat, langgeng dan diwariskan secara terus menerus dari generasi yang satu ke generasi selanjutnya (Harun Nasution, 1982) Secara umum kata agama berarti t”tidak kacau” yang secara analitis-kritis diuraikan dengan cara memisahkan kata demi kata “a” berarti tidak dan “gama” berarti kacau. Jadi kehidupan orang yang memeluk agama dan mengajarkan agama dengan sungguh-sungguh tidak akan mengalami kekacauan dengan kata lain mereka akan selamat. Sedangkan kata agama dalam bahasa arab biasa ditransliterasikan dengan ad-din. Dalam kamus Al Munjid, kata din memiliki kta harfiah yang cukup banyak: pahala, ketetuan, kekuasaan, peraturan dan penghitungan. Di dalam kamus Al Muhith, kata din diartikan dengan kerendahan hati, kemuliaan, paksaan dan peribadatan. Selain din, dalam wacana Islam, ditemukan pula dua istilah yang identik yakni millah (merujuk pada nabi) dan mazhab (merujuk pada ulama terkait).
Secara garis besar, agama dapat diklasifikasikan dalam 2 bentuk: agama samawi (wahyu) dan agama ardli (budaya). Agama samawi adalah agama yang diwahyukan dari Allah melalui malaikatNya kepada utusanNya untuk disampaikan kepada umat manusia. Agama ardli adalah agama yang bukan berasal dari Allah dengan jalan wahyu, melainkan karena proses antropologis yang terbentuk dari adat istiadat yang kemudian melembaga (terjadi institusionalisasi) dalam agama. Dengan perbedaan yang jelas bahwa agama samawi (berpokok pada keesaan Tuhan, mengimani nabi dan rasul, terdapat perintah/tuntunan berdasarkan wahyu, agama misionaris, tegas dan jelas) sedangkan agama ardli adalah sebaliknya.
Pada dasarnya agama yang telah ada terdahulu mengajarkan kepada ketauhidan. Pesan utama yang disampaikan oleh nabi dan rasul hanya mengesakan Allah. Allah bimbing mereka dengan mengutus para Rasul-Nya. Menurut hadits yang disampaikan Abu Dzar bahwa jumlah para Nabi sebanyak 124.000 semuanya menyerukan kepada Tauhid (dikeluarkan oleh Al-Bukhari di At-Tarikhul Kabir 5/447 dan Ahmad di Al-Musnad 5/178-179). Sementara dari jalan sahabat Abu Umamah disebutkan bahwa jumlah para Rasul adalah 313 (dikeluarkan oleh Ibnu Hibban di Al-Maurid 2085 dan Thabrani di Al-Mu'jamul Kabir 8/139)) agar mereka berjalan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta melalui wahyu yang dibawa oleh Sang Rasul.
Agama- agama terdahulu mengajarkan tauhid kepada umatnya. Agama Majusi (Azura Mazda dan ahriman), agama kristen (Allah). agama yahudi (Allah), agama brahma (trimurti sebagai wujud dari keesaan Tuhan), dll. Semua bukti ketauhidan tersebut tentu tidak dengan mudah diajarkan kepada umat masing-masing. Diantara umat di setiap agama pasti ada yang menyeleweng dan ada pula yang menentang secara keras yang menyebabkan laju ajarannya tidak optimal, ditambah dengan umat sepeninggal yang mengajarkan itu wefat maka akan terjadi banyak pergeseran ajaran agama yang dirubah dan merubah hal yang paling esensi sehingga terjadi pengkaburan esensi agama tersebut.

Aqidah Sebagai Universalitas Inti ajaran Islam
Aqidah disebut pula keyakinan, sifat keyakinan ini adalah terus menerus yang tidak akan berubah karena faktor apapun juga serta mengikat hatinya dari segala keraguan karena ini adalah unsur dasar bangunan islam. Berbeda dengan kepercayaan terletak pada lamanya jangka waktu berlakunya. secara bahasa berarti sesuatu yang mengikat. Aqidah menurut terminologi syara' (agama) yaitu keimanan kepada Allah, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, Hari Akherat, dan keimanan kepada takdir Allah baik dan buruknya. Ini disebut Rukun Iman (QS. An Nisa:136). Dalam syariat Islam terdiri dua pangkal utama. Pertama : Aqidah yaitu keyakinan pada rukun iman itu, letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dengan cara-cara perbuatan (ibadah). Bagian ini disebut pokok atau asas. Kedua : Perbuatan yaitu cara-cara amal atau ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan seluruh bentuk ibadah disebut sebagai cabang. Nilai perbuatan ini baik buruknya atau diterima atau tidaknya bergantung yang pertama. Makanya syarat diterimanya ibadah itu ada dua, pertama : Ikhlas karena Allah SWT yaitu berdasarkan aqidah islamiyah yang benar. Kedua : Mengerjakan ibadahnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Ini disebut amal sholeh. Ibadah yang memenuhi satu syarat saja, umpamanya ikhlas saja tidak mengikuti petunjuk Rasulullah SAW tertolak atau mengikuti Rasulullah SAW saja tapi tidak ikhlas, karena faktor manusia, umpamanya, maka amal tersebut juga tertolak.
Dimensi tauhid dalam perkembangan manusia berfungsi untuk mengejawantahkan ajaran tauhid agar dapat dijadikan konsep amal yang secara langsung berperan di atas bumi ini. Hierarkis dimensi tauhid adalah sebagai berikut:
1.Allah
2.Tauhid
3.Manusia
4.Tatanan Masyarakat
5.Peradaban Dunia
Jika kita perinci lagi, ini adalah konsepsi amanah yag harus dilaksanakan manusia. Esensinya adalah Allah – Alam dan Manusia. Allah membuat alam adalah sebagai ujian bagi makhluk sempurna yang Allah ciptakan selanjutnya yakni manusia. Jadi ini dapat kita katakan sebagai sayembara untuk menjadi insan muttaqin dengan semua ujian yang diberikan di atas bumi ini dengan hanya mengharap ridho Nya sebagai orientasi satu-satunya. Keimanan kepada Allah tidak dapat hanya kita ukur dari penciptaannya saja, sebagai contoh penciptaan alam semesta yang membuat kita merasa pantas menganggap Allah sebagai Tuhan kita hanya karena Allah sebagai pencipta Alam semesta. Karena ditegaskan dalam Al Qur’an bahwa dari silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berfikir Realitas-realitas yang kita temui di alam semesta ini adalah menguatkan bukti keagungan Allah. Seandainya Allah hanya kita anggap sebagai pencipta dan pemelihara an sich, maka sisi Ke Maha Besar-an Allah terasa sangat kecil sekali, karena semua dapat terjangkau oleh fikiran manusia.
Implementasi aqidah adalah tauhid. Ada beberapa macam tauhid untuk mengejawantahkan Dzat allah ini, yakni tauhid uluhiah (penghambaan), tauhid rububiyah (ketuhanan), tauhid asma (nama), tauhid sifat (sifat). Tauhid ini diturunkan menjadi syariah (hukum) yag akan mengatur manusia serta memberi petunjuj dan jalan hidup yang baik sesuai dengan harapan Allah SWT agar tidak salah melangkah. Tanggung jawab manusia yakni ” Membumikan ajaran-ajaran Islam yang bersifat illahiah menjadi perangkat praktis operasional sehingga tujuan alam dapat tercapai. Beberapa upaya untuk membumikan ajaran islam diantaranya adalah dengan memahami islam dengan ikhlas, membuktikan kebenaran islam, mengamalkan islam dalam kehidupan dan mengajarkan ajaran islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar